
Jelajahnegeriku.id, Kesultanan Langkat tercatat sebagai salah satu kesultanan paling kaya dan berpengaruh di Asia pada masa kolonial. Kekayaan sumber daya alam dan hubungan diplomatik yang kuat menjadikan Langkat disegani, bukan hanya di Sumatra Timur, tapi juga oleh bangsa-bangsa besar termasuk Belanda.
Salah satu momen bersejarah yang menjadi bukti keistimewaan Kesultanan Langkat terjadi pada tahun 1938, saat ulang tahun Ratu Belanda Wilhelmina. Dalam acara megah tersebut, anak Sultan Machmud, Djalil Rachmad Syah, Tengku kalsum dan Tengku Latifah Hanum dipercaya menjadi pemberi bunga kehormatan kepada sang ratu dan suaminya, Pangeran Belanda.
Acara ulang tahun itu dihadiri oleh para raja dan sultan dari seluruh Sumatra Timur, Asia, bahkan undangan mancanegara. Ribuan tamu memadati lapangan sepak bola internasional tempat berlangsungnya acara tersebut di negeri Belanda.
Ratu Wilhelmina dan sang pangeran tiba dengan menaiki kereta kencana kerajaan. Di sepanjang jalan, mereka menyapa para undangan, menunjukkan keramahan khas bangsawan Eropa yang disambut hangat oleh para tamu dari berbagai negara.
Puncak acara terjadi saat kereta kencana berhenti di panggung kehormatan. Dua putri dari Sultan Langkat pun tampil anggun dengan pakaian adat khas Melayu Langkat untuk mempersembahkan bunga penghormatan kepada ratu dan pangeran.
Momen itu menjadi pusat perhatian ribuan pasang mata. Semua pandangan tertuju pada kedua putri Sultan Langkat Tengku kalsum dan Tengku Latifah Hanum yang dengan penuh kehormatan berdiri di hadapan ratu Belanda. Sebuah rekaman video berdurasi 1 menit 50 detik merekam detik-detik sakral tersebut.
Dalam video yang kini menjadi warisan sejarah itu, juga terlihat pertunjukan seni budaya dari berbagai daerah di Nusantara, termasuk tarian kuda lumping dari Jawa, dan berbagai karnaval kapal hias, serta penampilan lain yang memperkaya suasana pesta kenegaraan tersebut.
“Ini luar biasa, bagaimana anak dari Sultan Langkat diberi panggung kehormatan oleh Kerajaan Belanda untuk memberikan bunga di hari ulang tahun Ratu Wilhelmina, di hadapan ribuan tamu bangsawan dari berbagai negara,” ujar Tengku Oni, cucu Sultan Machmud.
Ia menambahkan, momen itu adalah bentuk penghargaan dan balas budi dari kerajaan Belanda terhadap Kesultanan Langkat yang selama ini dikenal sebagai mitra dagang yang loyal dan kaya hasil bumi.
“Saya tidak menyangka bisa melihat video bersejarah itu. Terlihat jelas ibu saya dan makcik saya Tengku Kalsum yang memberikan bunga kepada ratu. Bahkan wajah kakek saya, Sultan Machmud, juga terekam jelas di sana,” ungkap Tengku Oni penuh haru.
Menurutnya, video tersebut menjadi bukti nyata betapa tinggi penghormatan kerajaan Belanda terhadap Kesultanan Langkat. Hubungan antara kedua kerajaan dijalin melalui kerja sama yang kuat dan saling menguntungkan selama masa kontrak kerja kolonial.
“Ini adalah pengingat bagi kita semua bahwa kerajaan kita dulu sangat dihormati dan disegani oleh kerajaan lain di dunia,” pungkas Tengku Oni menutup penuturannya.
Peristiwa ini menjadi catatan emas dalam sejarah Langkat, menegaskan posisi kesultanan tersebut sebagai mitra istimewa bagi kerajaan sebesar Belanda di masa lampau.(hj)




