Jelajahnegeriku.id,Aceh Tamiang-Di tengah upaya pemulihan pasca bencana banjir bandang, warga Desa Tanjung Seumentoh, Kabupaten Aceh Tamiang, kembali menghidupkan tradisi Weot Dodol sebagai bagian dari persiapan menyambut Hari Raya Idulfitri.Tradisi ini menjadi simbol ketahanan masyarakat dalam menjaga budaya di tengah kondisi sulit.
Meski berada dalam keterbatasan, semangat warga tidak surut. Mereka tetap bergotong royong mengaduk adonan dodol di atas kuali besar secara bergantian. Aroma manis dari dodol yang dimasak perlahan menyebar dari dapur darurat, menghadirkan suasana hangat di tengah situasi pascabencana.
Tangan-tangan warga terus bergerak tanpa henti, menjaga adonan agar tidak gosong dan mencapai kekentalan yang sempurna. Tradisi yang dikenal dengan sebutan woet dodol ini menjadi bagian penting dalam menyambut Lebaran, sekaligus mempererat hubungan sosial antar warga.
Di sela-sela proses memasak, canda tawa sesekali pecah, menciptakan suasana kebersamaan yang kental. Kepulan asap dan panas api tidak menghalangi semangat mereka untuk terus melestarikan tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun.
Bagi para penyintas banjir di Aceh Tamiang, woet dodoi bukan sekadar aktivitas memasak.
Tradisi ini sarat dengan nilai gotong royong, kebersamaan, dan silaturahmi yang menjadi fondasi kehidupan sosial masyarakat setempat.
Salah seorang warga, Rasyidin (56), mengungkapkan bahwa pembuatan dodol tradisional membutuhkan kesabaran dan tenaga ekstra. Dalam satu kali proses memasak, diperlukan waktu hingga tujuh jam agar dodol matang sempurna dengan tekstur kenyal dan rasa legit.
“Biasanya kami buat ramai-ramai, gantian mengaduk supaya tidak gosong. Kalau tidak dijaga terus, dodol bisa rusak,” ujar Rasyidin pada Senin (23/3/2026) malam.
Setelah matang, dodol tidak hanya dinikmati bersama keluarga, tetapi juga dibagikan kepada kerabat yang datang bersilaturahmi saat Idulfitri. Sebagian lainnya dikemas untuk dikirim ke keluarga di luar daerah, menjadi pengikat rindu sekaligus bukti bahwa tradisi tetap hidup di tengah keterbatasan.(hj)




