Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Langkat menggelar Lomba Tari Tradisional di Museum Daerah Kabupaten Langkat, yang berlangsung di Kecamatan Tanjungpura. Kegiatan ini bertujuan untuk menghidupkan kembali seni dan budaya Melayu di tengah masyarakat, serta memberikan wadah bagi generasi muda untuk mengekspresikan bakat mereka.
Lomba ini diikuti oleh 28 peserta dari tingkat SLTP, 23 peserta dari SLTA, dan 5 peserta dari kategori umum. Selama tiga hari, mulai dari hari Rabu hingga Jumat, para peserta menampilkan berbagai tarian tradisional Melayu yang penuh makna dan nilai-nilai budaya.
Para penari menunjukkan kualitas dan kreativitas yang mengesankan, mempertahankan unsur tradisi dan tatanan tari Melayu. Penonton pun memberikan sambutan hangat dengan sorakan ketika melihat aksi para penari, yang menampilkan bakat luar biasa yang selama ini terpendam akibat minimnya kompetisi di daerah tersebut.
Kegiatan ini tidak hanya menjadi ajang perlombaan, tetapi juga bertujuan untuk menumbuhkan rasa cinta generasi muda terhadap seni tari Melayu. Melalui kegiatan ini, mereka diharapkan dapat memahami lebih dalam tentang adat istiadat serta tata cara menari yang benar.
Setiap penampilan tidak hanya dinilai berdasarkan teknik, tetapi juga mendapatkan masukan dari para mentor yang berpengalaman. Hal ini memberikan pembelajaran berharga bagi peserta tentang berbagai tata cara tari Melayu yang sesuai dengan norma dan nilai budaya setempat.
Dewi, salah satu peserta, mengungkapkan rasa syukurnya atas perlombaan ini. Ia mengatakan, “Alhamdulillah, dengan adanya perlombaan tari Melayu tingkat Kabupaten Langkat, kami dapat menyalurkan hobi dan bakat kami sebagai generasi muda.”
Peserta juga belajar mengenai norma-norma yang harus dijaga saat menari, seperti larangan bersentuhan antara penari laki-laki dan perempuan. Hal ini menunjukkan komitmen mereka untuk tetap mencerminkan nilai-nilai yang ada dalam tari Melayu.
Acara pembukaan lomba ini dihadiri oleh berbagai tokoh penting, termasuk Kepala Dinas Pariwisata, Camat Tanjungpura, Kapolsek, Danramil, tokoh adat, serta dewan guru dan masyarakat setempat, yang semuanya menunjukkan dukungan terhadap upaya pelestarian seni dan budaya Melayu.

