close

BUDAYA

BUDAYA

Ricky Anthony Apresiasi dan Dukung Pagelaran Seni Budaya serta Suroan Nusantara 2026 di Langkat

Jelajahnegeriku.id,Langkat – Pertunjukan Seni Budaya dan Suroan Nusantara 2026 digelar Grup Kuda Lumping Singo Rawe di Lapangan Bola Voli Tribun Stabat, Langkat, Sabtu (20/6/2026) malam. Pagelaran khas dari ‘Tanah Jawa’ ini pun mengundang antusiasme warga dan mendapat dukungan, serta perhatian khusus dari Pimpinan DPRD Sumut Ricky Anthony.

“Kita sangat mendukung kegiatan-kegiatan positif seperti ini. Karena, pagelaran kuda lumping merupakan salah satu warisan budaya. Sehingga, sudah sepatutnya dijaga dan dilestarikan,” tutur legislator muda yang akrab disapa RA ini.

Kegiatan tersebut, kata RA, juga menjadi ruang untuk melestarikan tradisi dan merupakan semangat kebangsaan yang masih eksis di tengah masyarakat. Termasuk sebagai komitmen pegiat seni budaya untuk menjaga warisan leluhurnya.

Sehingga, kesenian dan kebudayaan nusantara tidak luntur dan terus eksis seiring dengan perkembangan zaman. Tentunya, hal tersebut tanpa meninggalkan nilai-nilai moral dan spiritual yang menjadi fondasi kehidupan bermasyarakat.

“Bagi masyarakat Jawa di berbagai daerah Nusantara, Suroan memiliki makna yang sangat mendalam. Pada momen ini dijadikan sarana untuk introspeksi diri, mempererat silaturrahmi serta munajat untuk keselamatan dan keberkahan,” ujar RA.

#Instrumen Pemersatu Bangsa
Mika Andrean, Pimpinan Grup Kesenian Kuda Lumping Singo Rawe mengucapkan terima kasih atas dukungan RA. Pria yang biasa disapa Andre ini, juga menyampaikan penghargaan dan apresiasi atas perhatian yang diberikan politisi dari Partai NasDem tersebut.

“Dukungan beliau menunjukkan bahwa pelestarian budaya bukan hanya tanggung jawab para pelaku seni, tetapi juga menjadi kepedulian para pimpinan Wakil Rakyat. Kehadiran dan dukungan tokoh-tokoh yang peduli terhadap budaya, menjadi penyemangat bagi kami untuk terus menjaga warisan leluhur sebagai kekayaan yang tak ternilai bagi bangsa Indonesia,” ucap Andre.

Melalui pagelaran seni tersebut, Group Kesenian Kuda Lumping Singo Rawe berupaya menghadirkan sebuah perayaan budaya. Dimana, hal itu tidak hanya menampilkan hiburan rakyat, tetapi juga mengandung pesan edukatif tentang pentingnya menjaga identitas budaya di tengah tantangan globalisasi.

Kegiatan itu juga sebagai bukti nyata, bahwa seni budaya tradisional dapat berjalan seiring dengan semangat nasionalisme. Budaya tidak hanya menjadi warisan masa lalu, tetapi juga instrumen pemersatu bangsa yang mampu memperkuat toleransi, mempererat persaudaraan, dan menumbuhkan rasa cinta tanah air.

Tingginya antusiasme masyarakat, menjadi gambaran nyata bahwa seni budaya tradisional masih memiliki daya tarik yang kuat di tengah perkembangan zaman. Ratusan warga yang memadati arena pertunjukan, menunjukkan kecintaan dan kepedulian terhadap budaya lokal yang menjadi bagian dari identitas bangsa. (hj)

Selengkapnya
BUDAYA

Rencana Voting Ketua Pasar Pajak Baru Tanjung Pura Picu Polemik dan Kekhawatiran Konflik

Jelajahnegeriku.id,Langkat — Rencana pelaksanaan voting pemilihan Ketua Pengurus Pasar Tradisional (Pajak Baru) di Jalan Khairil Anwar Lingkungan XII, Tanjung Pura, Kabupaten Langkat, menuai sorotan tajam. Kebijakan tersebut diduga tidak lepas dari kepentingan pihak tertentu yang berupaya mengambil alih pengelolaan pasar.

Selama ini, kondisi pasar diketahui relatif kondusif di bawah kepemimpinan Khairul Umri. Penataan pasar dinilai berjalan baik, menciptakan kenyamanan bagi pedagang dan pengunjung, serta membuka lapangan kerja bagi masyarakat sekitar.
Namun, situasi tersebut kini terancam berubah. Beredarnya surat dari Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Langkat memicu keresahan di kalangan pengurus dan pedagang. Surat itu disebut menjadi dasar rencana pergantian kepengurusan melalui mekanisme voting.

Sejumlah pihak menilai, mekanisme tersebut rawan disusupi kepentingan, termasuk dugaan praktik politik uang dan intervensi oknum pejabat. Jika hal ini benar terjadi, maka bukan tidak mungkin akan memicu konflik terbuka di tengah masyarakat pedagang.

“Pasar ini sudah berjalan baik. Kalau dipaksakan voting dengan kepentingan tertentu, bisa menimbulkan gejolak,” ujar Tengku Onny Rafizah Hafas selaku Ketua Umum Perkumpulan Masyarakat Adat (PMA) Tengku Machmoed Abdul Jalil Rahmat Syah-Sultan Langkat ke-3, Rabu (6/5/2026).

Selain itu, munculnya kandidat dari luar lingkungan pasar juga menjadi perhatian. Kehadiran pihak eksternal dikhawatirkan akan memicu resistensi dari masyarakat setempat yang selama ini menjadi bagian dari pengelolaan pasar.

Sebagai solusi, sejumlah pihak mendorong Pemerintah Kabupaten Langkat untuk tidak gegabah mengambil kebijakan. Pembentukan Perusahaan Daerah (PD) Pasar atau Perusahaan Umum Daerah (Perumda) Pasar dinilai sebagai langkah yang lebih tepat untuk menciptakan sistem pengelolaan yang profesional, transparan, dan memiliki kepastian hukum.

Jika tidak ditangani secara bijak, polemik ini dikhawatirkan akan berkembang menjadi konflik sosial yang merugikan banyak pihak, khususnya para pedagang kecil di Tanjung Pura.

Selengkapnya
BUDAYAPOLITIK

Silaturahmi Lebaran, Zuriat Sultan Langkat Jalin Kerja Sama dengan DPC Hanura Langkat

Jelajahnegeriku.id,Langkat-Momen Lebaran tahun ini dimanfaatkan sebagai ajang mempererat silaturahmi oleh zuriat Sultan Langkat dengan mengunjungi Sekretariat DPC Partai Hanura Kabupaten Langkat di Stabat. Kunjungan tersebut disambut hangat oleh Ketua Muhammad Rasid Panen beserta jajaran pengurus partai.

Kedatangan zuriat Sultan Machmud tidak hanya sekadar bersilaturahmi, tetapi juga membawa misi penting untuk berdiskusi mengenai kondisi Kabupaten Langkat saat ini. Dalam pertemuan tersebut, turut dibahas berbagai persoalan terkait masyarakat adat yang dinilai perlu dirangkul dan diperkuat keberadaannya di berbagai wilayah.

Suasana perbincangan berlangsung hangat dan penuh keakraban meski kedua pihak baru pertama kali bertemu. Hal ini mencerminkan adanya kesamaan visi dalam upaya membangun Langkat yang lebih baik melalui pelestarian adat dan budaya.

Ketua DPC Partai Hanura Kabupaten Langkat, Muhammad Rasid Pane, menyampaikan dukungannya terhadap berbagai gagasan yang disampaikan oleh pihak zuriat kesultanan. Ia menilai langkah tersebut penting untuk menjaga warisan budaya Melayu di tanah Langkat.

Menurutnya, pelestarian adat budaya serta penguatan masyarakat adat merupakan langkah strategis dalam mengembalikan kejayaan Melayu di wilayah bekas Kesultanan Langkat. Ia juga menegaskan komitmen partai untuk mendukung program-program tersebut ke depan.

Rombongan zuriat Sultan Machmud hadir bersama tim yang terdiri dari sejarawan, konsultan, tim pemetaan, serta perwakilan masyarakat adat dari Desa Kwala Gebang. Kehadiran mereka menunjukkan keseriusan dalam merancang langkah konkret bagi penguatan adat dan budaya.

Kunjungan ini tidak hanya dimaknai sebagai silaturahmi, tetapi juga sebagai langkah awal membangun kerja sama antara kedua pihak. Tujuannya adalah mengembalikan kejayaan Langkat di masa lalu melalui penguatan nilai-nilai adat dan budaya.

“Alhamdulillah kita kedatangan tamu dari zuriat Kesultanan Langkat. Ini suatu kehormatan bagi kami sebagai pimpinan Partai Hanura di Kabupaten Langkat,” ujar Panen.

Ia menambahkan bahwa pembahasan terkait budaya dan masyarakat adat menjadi fokus utama dalam pertemuan tersebut. Pihaknya menyatakan kesiapan untuk mendukung dan mengembangkan program pelestarian adat ke depan.

Panen juga mengungkapkan rasa hormatnya terhadap budaya Melayu, terlebih kepada keturunan pemimpin Langkat di masa lalu.

Ia menyebut pertemuan ini sebagai momentum yang sangat berharga.

“Apa pun bentuk kegiatan yang bertujuan mengembalikan harkat dan martabat Melayu, kami dari Partai Hanura Kabupaten Langkat siap mendukung,” tegasnya.

Sementara itu, Tengku Ony selaku cucu Sultan Machmud Djalil Rachmad Syah menyampaikan rasa syukur atas pertemuan tersebut. Ia mengungkapkan bahwa sebelumnya telah direncanakan beberapa agenda pertemuan, dan akhirnya dapat terlaksana pada hari ini.

Menurutnya, pertemuan dengan Ketua Muhammad Rasid Pane memberikan kesan yang sangat positif. Ia menilai Panen sebagai sosok yang santun, menghormati adat, serta memiliki kepedulian terhadap warisan budaya.

Dalam perbincangan singkat tersebut, kedua pihak sepakat untuk bersama-sama melestarikan adat, budaya, serta memperkuat peran masyarakat adat di Kabupaten Langkat. Harapannya, kolaborasi ini dapat membawa dampak nyata bagi masyarakat.

Tengku Ony juga berharap dukungan dan doa dari seluruh masyarakat agar upaya tersebut dapat berjalan dengan baik. Ia optimistis bahwa dengan kerja sama yang solid, masyarakat Melayu di Langkat dapat kembali bersatu dan berkembang lebih kuat di masa depan.(hj)

Selengkapnya
DAERAHBUDAYA

Di Tengah Keterbatasan, Warga Aceh Tamiang Tetap Lestarikan Tradisi Weot Dodol Saat Lebaran

Jelajahnegeriku.id,Aceh Tamiang-Di tengah upaya pemulihan pasca bencana banjir bandang, warga Desa Tanjung Seumentoh, Kabupaten Aceh Tamiang, kembali menghidupkan tradisi Weot Dodol sebagai bagian dari persiapan menyambut Hari Raya Idulfitri.Tradisi ini menjadi simbol ketahanan masyarakat dalam menjaga budaya di tengah kondisi sulit.

Meski berada dalam keterbatasan, semangat warga tidak surut. Mereka tetap bergotong royong mengaduk adonan dodol di atas kuali besar secara bergantian. Aroma manis dari dodol yang dimasak perlahan menyebar dari dapur darurat, menghadirkan suasana hangat di tengah situasi pascabencana.

Tangan-tangan warga terus bergerak tanpa henti, menjaga adonan agar tidak gosong dan mencapai kekentalan yang sempurna. Tradisi yang dikenal dengan sebutan woet dodol ini menjadi bagian penting dalam menyambut Lebaran, sekaligus mempererat hubungan sosial antar warga.

Di sela-sela proses memasak, canda tawa sesekali pecah, menciptakan suasana kebersamaan yang kental. Kepulan asap dan panas api tidak menghalangi semangat mereka untuk terus melestarikan tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun.
Bagi para penyintas banjir di Aceh Tamiang, woet dodoi bukan sekadar aktivitas memasak.

Tradisi ini sarat dengan nilai gotong royong, kebersamaan, dan silaturahmi yang menjadi fondasi kehidupan sosial masyarakat setempat.

Salah seorang warga, Rasyidin (56), mengungkapkan bahwa pembuatan dodol tradisional membutuhkan kesabaran dan tenaga ekstra. Dalam satu kali proses memasak, diperlukan waktu hingga tujuh jam agar dodol matang sempurna dengan tekstur kenyal dan rasa legit.

“Biasanya kami buat ramai-ramai, gantian mengaduk supaya tidak gosong. Kalau tidak dijaga terus, dodol bisa rusak,” ujar Rasyidin pada Senin (23/3/2026) malam.

Setelah matang, dodol tidak hanya dinikmati bersama keluarga, tetapi juga dibagikan kepada kerabat yang datang bersilaturahmi saat Idulfitri. Sebagian lainnya dikemas untuk dikirim ke keluarga di luar daerah, menjadi pengikat rindu sekaligus bukti bahwa tradisi tetap hidup di tengah keterbatasan.(hj)

Selengkapnya
NASIONALBUDAYA

 Wali Utama Komunitas Tanjak Langkat, Sambut Menteri Kebudayaan di Tanjungpura 

Jelajahnegeriku.id, Langkat- kunjungan kerja dilakukan oleh Fadli Zon selaku Menteri Kebudayaan Republik Indonesia ke Kecamatan Tanjung Pura, Kabupaten Langkat pada Sabtu (07/03/2026). Kedatangan menteri tersebut disambut langsung oleh Wali Utama Komunitas Tanjak Langkat, Nawawi atau yang akrab disapa Bang Nawi, bersama sejumlah tokoh masyarakat setempat.

Kunjungan ini difokuskan untuk meninjau sejumlah situs budaya serta menjalin silaturahmi dengan komunitas masyarakat dan pegiat budaya di kawasan bersejarah tersebut. Pemerintah berharap perhatian terhadap warisan budaya di Langkat dapat terus ditingkatkan melalui dukungan kementerian.

Rombongan Menteri Kebudayaan tiba sekitar pukul 11.00 WIB di kompleks Jam’iyah Mahmudiyah yang berada di Kelurahan Pekan Tanjung Pura. Kedatangan tokoh nasional itu disambut hangat oleh unsur Forkopimda Langkat, tokoh masyarakat, serta kalangan akademisi dari yayasan pendidikan setempat.

Prosesi penyambutan dilakukan secara adat Melayu dengan pemasangan tanjak sebagai simbol kehormatan kepada tamu agung. Tradisi ini mencerminkan penghormatan masyarakat Melayu terhadap tamu yang datang serta menjadi bagian dari kekayaan budaya daerah.

Dalam agenda kegiatan tersebut, Menteri Kebudayaan juga menyerahkan bantuan secara simbolis kepada komunitas masyarakat di Makhtab Jam’iyah Mahmudiyah. Bantuan itu diharapkan dapat mendukung kegiatan pelestarian budaya serta aktivitas pendidikan yang berlangsung di lingkungan lembaga tersebut.

Pada kesempatan yang sama, Bang Nawi selaku Wali Utama Komunitas Tanjak Langkat turut menyerahkan pin kebesaran Komoditas Tanjak Langkat kepada Menteri Kebudayaan sebagai tanda penghargaan dan persahabatan antara komunitas budaya dengan pemerintah pusat.

Dengan penampilan khas Melayu, Bang Nawi terlihat mengenakan busana adat lengkap dengan tanjak kebesaran Melayu. Ia juga mendampingi Menteri Kebudayaan meninjau beberapa lokasi peninggalan sejarah di kawasan Tanjung Pura.

Salah satu lokasi yang dikunjungi adalah Kolam Raja yang merupakan salah satu aset sejarah penting di daerah tersebut. Selain itu, rombongan juga melakukan ziarah di area makam Masjid Azizi yang dikenal sebagai salah satu masjid bersejarah di Sumatera Utara.

Turut mendampingi kunjungan tersebut antara lain Asisten II Pembangunan dan Perekonomian Kabupaten Langkat Dr. H. Hermansyah, M.IP., Kepala Dinas Budaya dan Pariwisata Langkat Hj. Nur Elly Heriani Rambe, MM., serta jajaran civitas akademika dari Yayasan Pendidikan dan Institut Jam’iyah Mahmudiyah.

Dalam kesempatan itu, Bang Nawi menyampaikan terima kasih kepada Kementerian Kebudayaan yang dinilai telah banyak mendukung para pegiat seni dan budaya melalui program pelestarian budaya di Sumatera Utara.(hj)

Selengkapnya
BUDAYADAERAH

Langkat Sudah Lama Bersatu: Entitas Melayu sebagai Simbol Penyatuan di Bumi Langkat

Jelajahnegeriku.id,Langkat – Sejak berabad-abad lalu, Langkat dikenal sebagai tanah yang mempersatukan beragam suku, agama, dan budaya dalam satu harmoni. Di tengah mozaik keberagaman tersebut, entitas Melayu berdiri sebagai simbol penyatuan yang mengakar kuat di Bumi Langkat. Nilai-nilai Melayu telah membentuk karakter masyarakatnya yang santun, ramah, dan menjunjung tinggi musyawarah.

Kebudayaan Melayu bukan sekadar atribut budaya, tetapi merupakan identitas lokal asli yang tumbuh dari rahim sejarah Langkat itu sendiri. Fakta ini tercermin dari nama Kabupaten Langkat yang diambil dari Kesultanan Melayu Langkat — sebuah kerajaan Melayu yang pernah berjaya di pesisir timur Sumatera Utara. Warisan itu tidak hanya terlihat dalam seni, adat, dan bahasa, tetapi juga dalam cara masyarakat Langkat berinteraksi, memecahkan masalah, dan menjaga keharmonisan antarwarga.

Ketua Dunia Melayu Dunia Islam (DMDI) Langkat, Agung Kurniawan, menegaskan pentingnya merawat warisan ini sebagai perekat sosial di tengah dinamika zaman.

 

“Melayu di Langkat bukan sekadar identitas budaya, tetapi perekat yang telah mempersatukan masyarakat lintas etnis selama berabad-abad. Nilai-nilai Melayu mengajarkan kita untuk menghormati perbedaan, mengedepankan musyawarah, dan memelihara persaudaraan. DMDI Langkat akan terus berada di garda terdepan untuk merawat, mengembangkan, dan memperkenalkan budaya Melayu sebagai kekuatan pemersatu daerah ini,” ujarnya.

Agung juga mengingatkan pentingnya menjaga ketenangan dan sikap dewasa dalam menghadapi arus informasi yang berkembang cepat di era digital.

“Saya mengajak seluruh puak-puak Melayu agar tidak mudah terprovokasi dengan berita-berita yang menyudutkan bangsa Melayu. Kita ini bangsa yang santun, yang selalu mengedepankan akhlak dan kesabaran. Karakter ini adalah warisan nenek moyang kita yang harus tetap kita jaga, terutama di tengah maraknya isu-isu yang dapat memecah belah persatuan,” tegasnya.

Dengan menjaga jati diri dan nilai-nilai luhur tersebut, Bumi Langkat akan terus menjadi rumah bersama yang damai, sejahtera, dan penuh rasa persaudaraan. Seperti yang telah terjadi sejak lama, keberagaman di Langkat akan tetap berada dalam pelukan persatuan yang kokoh, dengan Melayu sebagai tiang penyangganya.(hj)

Selengkapnya
DAERAHBUDAYA

Bupati Langkat Dukung Penuh Pengembangan Desa Wisata Syariah Berbasis Sejarah

Jelajahnegeriku.id,Langkat –Bupati Langkat H. Syah Afandin, SH menegaskan komitmennya dalam mendukung pengembangan desa wisata berbasis syariah dan sejarah, melalui penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara Pemerintah Kabupaten Langkat dengan Institut Syekh Abdul Halim Hasan (INSAN) Binjai.

Penandatanganan MoU tersebut dilaksanakan pada Sabtu, 26 Juli 2025 di Desa Pasar Rawa, Kecamatan Gebang, dengan mengusung tema “Upaya Membangun Desa Wisata Syariah dengan Memanfaatkan Situs Sejarah di Kecamatan Gebang dalam Rangka Mewujudkan Langkat Berseri”.

Rektor INSAN Binjai, Dr. Adv. Abdul Halim Nasution, S.Ag, M.H, C.Med menyampaikan apresiasi atas terlaksananya kerja sama ini. Ia menyebutkan bahwa selain mengajar, tugas dosen adalah melakukan pengabdian kepada masyarakat. Salah satunya melalui pengembangan desa wisata syariah yang memanfaatkan kekayaan situs sejarah di Langkat.

“Kami ingin mengangkat potensi sejarah di Langkat. Ini adalah daerah bertuah dengan budaya Melayu yang kental. Hasil dari penelitian ini nantinya akan kami rangkum dalam bentuk buku sebagai referensi sejarah lokal,” ujarnya.

Bupati Langkat H. Syah Afandin, SH dalam sambutannya menyambut baik kolaborasi tersebut. Ia menilai langkah ini sangat strategis untuk memperkenalkan dan melestarikan warisan sejarah Langkat kepada generasi muda.

“Langkat ini kaya akan peninggalan sejarah, baik dari masa kerajaan hingga kolonial. Ada makam para ulama, bangunan masjid tua, dan banyak lagi. Saya berharap buku hasil kerja sama ini nanti bisa diperbanyak dan dibagikan ke sekolah-sekolah, agar anak-anak kita mengenal sejarah daerahnya sejak dini,” ujar Bupati.

Ia juga menekankan pentingnya promosi wisata syariah agar lebih luas dikenal masyarakat luar.

“Dengan kolaborasi seperti ini, saya berharap promosi wisatanya juga ditingkatkan, agar para wisatawan tertarik datang dan menikmati keunikan wisata syariah di Langkat,” tambahnya.

Acara ini turut dihadiri oleh Anggota DPRD Sumatera Utara Drs. H. Abdul Khair, MM, Anggota DPRD Langkat Eddi Wijaya, sejumlah Kepala Perangkat Daerah, Camat Gebang, tokoh agama, dan tokoh masyarakat.(hj)

Selengkapnya
1 2 3 4
Page 1 of 4