close

BUDAYA

BUDAYADAERAHPENDIDIKAN

Hj. Endang Ziarah ke Makam Sultan Langkat dan Masturah, Sosok Wanita Hebat di Balik Kemajuan Langkat

Jelajahnegeriku.id,Langkat – Hj. Endang, istri dari calon Bupati Langkat, Syah Afanden, mengunjungi makam Sultan Langkat dan Masturah, wanita luar biasa yang pernah mendampingi Sultan Musa dalam memimpin Langkat. Kunjungan tersebut bertujuan untuk menghormati sejarah dan mengenang perjuangan Masturah, sosok yang sangat berperan dalam kemajuan Langkat, terutama dalam bidang pendidikan..

Hj. Endang bersama Tim Satria berziarah ke makam para pendiri Langkat, termasuk Sultan Langkat T. Musa Al-Mu’azansyah dan keluarga besar Kesultanan Langkat, serta makam ulama besar Syeikh Muhammad Yusuf Mereka memanjatkan doa dan memberikan penghormatan atas jasa-jasa para pendiri negeri.

Selama berada di makam Masturah, Hj. Endang tak kuasa menahan air mata mendengar kisah tentang sosok wanita hebat tersebut. Masturah, yang merupakan istri Sultan Langkat pertama, dikenal sebagai pelopor emansipasi wanita di wilayah Melayu pada abad ke-18. Dengan dedikasinya, Masturah memainkan peran kunci dalam membawa Langkat menjadi lebih maju, terutama dalam pendidikan yang setara bagi perempuan dan laki-laki.

“Ibu Masturah adalah wanita yang luar biasa. Selain menjadi pendamping Sultan, beliau juga memikirkan pentingnya pendidikan untuk anak-anak Langkat, bahkan mendirikan sekolah pada abad ke-18 yang dikenal dengan nama Sekolah Masturah,” ujar Hj. Endang dengan penuh kekaguman. Masturah dikenal sebagai sosok yang memajukan pendidikan di Langkat dan memperjuangkan emansipasi wanita pada masanya, sehingga jasa-jasanya dikenang hingga saat ini.

Hj. Endang sangat terharu karena kisah perjuangan Masturah selama ini tidak banyak dipublikasikan atau diangkat dalam sejarah. “Kenapa cerita ini tidak pernah dipublikasikan? Masturah bahkan lebih hebat dari Kartini, perjuangannya untuk Langkat luar biasa. Kita harus mengenang dan mengangkat sejarah besar ini,” kata Endang, sambil meneteskan air mata. Endang menegaskan bahwa sudah saatnya sejarah dan perjuangan Masturah diperkenalkan kepada generasi muda.

Sebagai bagian dari komitmennya untuk mengangkat sejarah Langkat, Hj. Endang berjanji akan memperkenalkan kisah Masturah melalui berbagai program, salah satunya melalui PKK. “Isyallah, jika suami saya terpilih menjadi Bupati, kami akan angkat sejarah Masturah ini. Jangan biarkan kisah ini hilang begitu saja. Generasi muda Langkat harus tahu bahwa pada abad ke-18, Langkat memiliki wanita hebat yang memperjuangkan kemajuan daerah ini,” tegas Endang.

Selain berziarah ke makam Masturah, Hj. Endang juga menyempatkan diri untuk mengunjungi makam Sultan Langkat dan mendoakan arwah beliau serta keluarga kerajaan. Tak hanya itu, Endang juga berziarah ke makam Syeikh Muhammad Yusuf, ulama besar yang turut berperan dalam perkembangan Islam di Langkat.

Dalam ziarah tersebut, Hj. Endang menaburkan bunga di pusara Syeikh Muhammad Yusuf dan memanjatkan doa agar perjuangan para tokoh sejarah ini dapat menginspirasi masyarakat Langkat dalam mewujudkan kemajuan daerah yang lebih baik. “Semoga Allah SWT selalu memberi rahmat kepada para tokoh besar ini dan semangat mereka terus hidup di hati masyarakat Langkat,” ujar Hj. Endang.(hj)

editor=iijrah

Selengkapnya
BUDAYA

Pesanggrahan Siak: Jejak Sejarah Hubungan Diplomatik Kesultanan Langkat dan Siak

Jelajahnegeriku.id,Langkat-Kesultanan Langkat, yang pernah menjadi kekuatan besar di Sumatra Timur, dikenal dengan hubungan baiknya dengan kerajaan-kerajaan lain. Melalui pernikahan dan kerjasama bilateral dalam pemerintahan serta perdagangan, Kesultanan Langkat membangun jaringan yang kuat, yang masih terlihat hingga kini.

Salah satu peninggalan bersejarah dari era tersebut adalah Pesanggrahan Siak yang terletak di Jalan Tengku Amir Hamzah, Kecamatan Tanjungpura, Kabupaten Langkat, Sumatra Utara. Pesanggrahan ini merupakan saksi bisu dari hubungan erat antara Kesultanan Langkat dan Kesultanan Siak.

Pesanggrahan ini dibangun oleh Sultan Musa Al Holidi Naqsabandiyah sebagai tempat peristirahatan bagi para pembesar Kesultanan Siak saat mereka berkunjung ke Langkat dan Aceh. Bangunan ini dirancang untuk memberikan kenyamanan bagi para tamu yang datang dari jauh.

Strategisnya lokasi Pesanggrahan Siak, yang hanya beberapa meter dari Istana Darul Aman dan Darus Salam, membuat akses antara istana dan pesanggrahan sangat mudah. Hal ini memudahkan para sultan dan tamu untuk berkunjung dan berinteraksi satu sama lain.

Menurut Tengku Ony, salah satu cucu Sultan Langkat ke-III, Sultan Machmud Djalial Rahmadsyah, pembangunan pesanggrahan ini berkaitan erat dengan hubungan keluarga antara Sultan Musa dan Sultan Siak. Pesanggrahan tersebut menjadi simbol persaudaraan di antara kedua kesultanan.

Hubungan antara Kesultanan Siak dan Langkat mencapai puncaknya pada masa pemerintahan Raja Ahmad (1818-1840) dan terus berkembang di bawah Sultan Musa Muadamsyah (1840-1893). Sultan Musa, yang memiliki ikatan keluarga dengan Sultan Siak, dari ibunya putri Kesultanan Siak yang bernama Tengku Kana (T.Biah), sambungnya. 

Sultan Musa lahir dan dibesarkan di Istana Siak, di mana ia dilatih dalam berbagai bidang, termasuk pemerintahan, budaya, dan ilmu perang. Hal ini menjadikannya pemimpin yang hebat dan berpengaruh pada masanya.

Sepanjang pemerintahan Sultan Musa, hubungan diplomatik dan persaudaraan terus dijalin hingga masa Sultan Azis dan Sultan Machmud Djalial Rahmadsyah. Ikatan ini membuktikan pentingnya hubungan antar kesultanan dalam sejarah.

Arsitektur Pesanggrahan Siak menunjukkan perpaduan gaya Eropa dan Melayu, dengan bangunan berbentuk empat persegi panjang. Meskipun waktu berlalu, pesanggrahan ini tetap kokoh berdiri, mengingatkan kita akan masa kejayaan Kesultanan Langkat.

Jendela-jendela panjang dan lubang angin yang menghiasi setiap dinding rumah pesanggrahan menambah daya tarik bangunan ini. Menurut Tengku Ony, keindahan dan kekokohan bangunan ini adalah bukti nyata dari warisan budaya yang harus dilestarikan.(hj)

editor=ijra

Selengkapnya
RAGAM

Kesultanan Langkat di Abad 1920 : Simbol Kemewahan dan Modernitas dengan Branding Terpadu

Kesultanan Langkat pada masa kejayaannya di abad 1920 tidak hanya dikenal karena kekayaan sumber daya alamnya yang melimpah seperti minyak, pertanian, dan rempah-rempah, tetapi juga karena kemewahan yang mencerminkan status sosial dan kekuatan ekonominya.

Pada masa itu, kemewahan Kesultanan Langkat dapat dilihat dari barang-barang mewah yang digunakan oleh keluarga Sultan, seperti jam tangan, tempat penyimpanan rokok, keramik piring, dan tempat air. Setiap barang tersebut tidak hanya berfungsi sebagai alat, tetapi juga sebagai simbol status dengan branding tersendiri.

Dalam era yang masih serba terbatas pada masanya, Kesultanan Langkat telah menerapkan branding pada setiap barang yang digunakan oleh keluarganya. Barang-barang seperti guci, jam tangan, dan perhiasan lainnya memiliki lambang khas Langkat yang berupa ular dan tulisan “ML,” menandakan kepemilikan dan identitas eksklusif Kesultanan Langkat. Ini menunjukkan betapa jauh ke depan kesultanan ini dalam hal pemikiran modern dan pengakuan hak cipta atas barang-barangnya.

Menurut Tengku Oni, keunggulan Kesultanan Langkat terletak pada kemampuannya untuk memanfaatkan hasil bumi secara maksimal. “Pada masa Sultan Musa, Sultan Azis, hingga Sultan Machmud Djalil Rahmad Syah, hasil bumi Langkat melimpah dari sektor minyak, perkebunan, hingga rempah-rempah,” ujarnya. Keberhasilan ini tidak hanya berdampak pada kemajuan ekonomi, tetapi juga pada pembangunan dan pendidikan yang mengangkat kesejahteraan rakyat Langkat pada masa itu.

Tengku Oni menambahkan bahwa kemewahan Kesultanan Langkat membuatnya layak disebut sebagai salah satu kesultanan terkaya di Asia pada masanya. Barang-barang peninggalan kesultanan, seperti jam tangan, tempat rokok, cincin, bros, dan guci, semuanya memiliki branding khas yang memperkuat identitas Langkat. Hal ini menunjukkan bahwa Kesultanan Langkat tidak hanya kaya secara materi, tetapi juga modern dalam pemikiran untuk menciptakan dan melindungi hak cipta atas barang-barangnya.

Keberadaan branding yang diterapkan pada barang-barang Kesultanan Langkat menandakan adanya kesadaran tinggi akan pentingnya identitas dan eksklusivitas. Dengan branding yang jelas, Kesultanan Langkat mampu menguatkan citra kemewahan dan kekuasaan mereka, sekaligus memastikan bahwa setiap barang yang digunakan menjadi simbol status yang tidak bisa dipisahkan dari nama Langkat.

Saat ini, barang-barang peninggalan Kesultanan Langkat yang masih tersisa dapat dilihat dan dinikmati sebagai warisan budaya. Barang-barang tersebut, termasuk jam tangan, Cincin, Bros, dan guci, bukan hanya memiliki nilai sejarah tetapi juga estetika yang mencerminkan kemewahan dan kekayaan masa lalu.

Kesultanan Langkat telah meninggalkan jejak yang jelas tentang kemewahan dan kemodernan pada abad ke-20 melalui barang-barang berbranding mereka. Dengan menggunakan branding sebagai alat untuk memperkuat identitas, Kesultanan Langkat menunjukkan bahwa mereka tidak hanya sekadar berkuasa secara ekonomi, tetapi juga inovatif dalam memanfaatkan perkembangan terkini untuk menjaga dan meningkatkan status mereka.

Secara keseluruhan, Kesultanan Langkat bukan hanya dikenal sebagai pusat kemewahan dan kekayaan, tetapi juga sebagai contoh awal dari penerapan branding untuk menciptakan nilai dan eksklusivitas dalam setiap aspek kehidupan mereka.

Selengkapnya
1 2 3 4
Page 4 of 4